Senin, 21 Mei 2012

Laskar Pelangi Dan Fenomena Pendidikan Kita

0 komentar

Mendengar kata ‘Laskar Pelangi’, benak kita tentu akan tertuju pada novel tetralogi karangan Andrea Hirata yang rilis tiga tahun lalu. Suksesnya Laskar Pelangi yang mengangkat kehidupan kaum pinggiran nan miskin dan terlupakan di Pulau Belitong (sekarang Provinsi Bangka Belitung) menjadikan tokoh Ikal, Lintang, Mahar dkk sebagai pahlawan-pahlawan baru menggantikan tokoh `si Cowok Idaman’ dalam kebanyakan karya teenlit atau tokoh `Nayla si Trauma Seks’dalam kebanyakan sastra kelamin saat ini. Maka tak heran, bila sejumlah kritikus sastra memandang Laskar Pelangi sebagai fenomena baru, baik di ranah kesusastraan maupun perfilman nasional.Dalam latar kisah sekolah rekaan Andreainilah kita akan menemukan representasi mengkhawatirkan tentang praktik pendidikan formal di Indonesia yang kini tengah menuju pada `kematiannya’ . 

PendidikanYang Mana 
Sejatinya, pendidikan formal bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan (emansipatoris) . Dengan menguasai ilmu pengetahuan secara sistematis, rasional dan bersifat ilmiah, manusia dituntut untuk meninggalkan segala sumber pengetahuan manusia di masa lalu seperti mitos dan tradisi yang tidak rasional dan takhayul.

Maka dengan segala intelektualitas dan pengetahuannya itu, seorang manusia terdidik diharapkan mampu mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang dunia dan mencapai kehidupan yang lebih baik baginya di masa depan. Hal inilah yang direpresentasikan Andrea dalam Laskar Pelangi lewat tuturan tokoh orangtua Lintang pada kalimat berikut:
“Ayahnya . . . menganggap keputusan menyekolahkan Lintang adalah keputusan yang tepat . . . ia berharap Lintang dapat mengeluarkan mereka dari lingkaran kemiskinan yang telah lama mengikat mereka hingga sulit bernapas.“(Laskar Pelangi, halaman 95)
Maksud kalimat ini tentu sangat jelas. Tokoh ayah dan ibu Lintang percaya bahwa dengan menyekolahkan anaknya tersebut, Lintang akan membawa nasib keluarganya menjadi lebih baik di masa depan. Semangat Lintang bersekolah juga digambarkan dengan menempuh perjalanan sejauh empat puluh kilometer dari rumahnya di Tanjong Kelumpang menuju sekolah menggunakan sepeda sejak subuh hari.
Tempat Lintang dan kawan-kawannya bersekolah pun direpresentasikan dengan ideal oleh Andrea. Di sekolah yang mirip `gudang kopra’ itu, pendidikan yang diajarkan SD Muhammadiyah tidak semata berdasarkan standar kurikulum nasional, tetapi juga pendidikan moral, budi pekerti dan agama.
Simak kutipan berikut yang merupakan komentar tokoh Ikal mengenai Bu Mus:
`Beliau sendiri yang menyusun silabus pelajaran Budi Pekerti dan mengajarkan kepada kami sejak dini pandangan-pandangan dasar moral, demokrasi, hukum, keadilan, dan hak-hak asasi . . . Kami diajarkan menggali nilai luhur di dalam diri sendiri agar berperilaku baik karena kesadaran pribadi. Materi pelajaran Budi Pekerti yang hanya diajarkan di sekolah Muhammadiyah sama sekali tidak seperti kode perilaku formal yang ada dalam konteks legalitas institusional seperti sapta prasetya atau pedoman-pedoman pengamalan lainnya.‘(LP, hal 30-31)

Dari kutipan di atas kita bisa mengambil kesimpulan, bahwa memang kualitas seseorang yang berpendidikan tidak hanya diukur dengan nilai ujian dan angka di rapornya. Pendidikan yang baik mestilah menyeimbangkan pelajaran ilmu pasti dengan tuntunan agama, perilaku moral dan budi pekerti. Dan pendidikan model begini tentu akan mencetak manusia-manusia yang tak hanya encer otaknya, tapi juga memiliki mentalitas yang baik di kepribadiannya.
Kawan-kawan pembaca tentu akan setuju dengan saya bahwa memang begitulah seharusnya pendidikan formal dipraktikkan. Dan Andrea, lewat fiksinya tengah mengimajinasikan sebuah sekolah dengan konsep pendidikan ideal yang sejalan dengan semangat emansipatoris tadi.
Andrea Hirata dan Masalah Pendidikan
Adalah Iwan Simatupang, seorang tokoh sastra angkatan 70 yang menghabiskan hari-hari terakhirnya di kota Bogor, mengatakan demikian: `Pengarang adalah produk kultural tanah airnya. Setiap karyanya, perbuatannya, pemikirannya, secara inhaerent memantulkan kembali pertautan dirinya dengan tanah air’ (2004:337)
Dalam kata lain, kehidupan seorang pengarang akan selalu dipengaruhi lingkungan sosial-budaya dan bangsa dimana ia hidup. Sehingga apapun persoalan yang tertuang dalam karyanya kelak, seringkali merupakan hasil refleksi pengetahuan dan pengalaman hidupnya atas lingkungannya.
Maka di sinilah saya hendak menempatkan Andrea sebagai seorang pengarang yang tentu tak lepas dari pengaruh lingkungannya. Khususnya mengenai cara pandang Andrea terhadap permasalahan pendidikan di Indonesia, yang kemudian direpresentasikanny a dalam bentuk fiksi lewat Laskar Pelangi.
Di banyak referensi, kita akan menemui keterangan bahwa Andrea memiliki minat terhadap sains dan dunia pendidikan. Alih-alih sebagai novelis, ia mengaku lebih suka mengidentikkan dirinya sebagai seorang akademisi. Maka tak heran bila dalam Laskar Pelangi terdapat banyak kalimat dengan `bumbu-bumbu’ ilmiah yang dipadukannya dengan kisah-kisah sederhana nan memikat.

Menyimak halaman persembahan dalam buku Laskar Pelangi yang ditujukannya untuk dua orang guru masa kecilnya (Muslimah Hafsari dan Harfan Effeny Noor), tampak bahwa dua orang ini tak sekedar tokoh fiksi Laskar Pelangi dalam imajinasi Andrea, tapi juga ada dalam pengetahuan dan pengalaman hidup Andrea sebagai pengarang.

Maka bisa ditafsirkan pula bahwa Andrea merupakan anak ideologis hasil pendidikan ideal ala SD Muhammadiyah di Belitong. Tak keliru bila kita paham bahwa pendidikan ideal tersebut memang benar-benar ada di kehidupan nyata, khususnya kehidupan yang dialami Andrea.

Berangkat dari sinilah, saya menemukan fakta mengkhawatirkan tentang wajah pendidikan formal bangsa kita dewasa ini yang kian jauh dari representasi Andrea tentang pendidikan ideal. Alih-alih menjalankan fungsi emansipatorisnya, wajah pendidikan formal yang dipraktikkan bangsa ini adalah wajah yang bertopeng dalam kepura-puraan dan sangat menakutkan.

Matinya Pendidikan Kita
Sebelum kita melanjutkan bahasan berikut, perlu dipahami kawan-kawan pembaca bahwa kata ‘mati’ yang saya gunakan di sini bukanlah kematian secara fisik, namun ia merupakan metafora yang saya gunakan untuk melukiskan kecenderungan di mana fungsi emansipatoris dalam pendidikan kian menjadi tumpul.
Ketumpulan ini bisa kita lihat dari kecenderungan institusi/ penyelenggara pendidikan di Indonesia kini tengah gencar memproduksi lulusan yang link and match dengan pasar dunia kerja. Sehingga dalam jenjang waktu pendidikan yang singkat, diharapkan para lulusannya bisa memiliki skill praktis dan dengan mudah diserap pasar tenaga kerja.

Jutaan pelajar lulusan sekolah menengah juga kini tengah mengimpi-impikan dapat di fakultas favorit, jenjang kuliah yang singkat,dan setelah lulus mudah mendapatkan pekerjaan. Langkah ini sekilas memang terlihat strategis, mengingat Indonesia hari ini masih dibebani dengan persoalan tingginya angka pengangguran dan kemiskinan.

Namun saya sebut ini sebagai ketumpulan fungsi emansipatoris pendidikan yang kelak akan berujung pada matinya pendidikan, sebab ia membuat kita lupa bahwa sekolah dibangun untuk menguasai dan mengembangkan ilmu pengetahuan, dan bukan sekedar untuk mempermudah manusia mendapatkan gelar, pekerjaan, jabatan di perusahaan atau pun bergaji besar. Maka tak heran pula bahwa biaya yang dibutuhkan seseorang untuk mengenyam pendidikan, tak bisa dibilang murah.

Kini kian jelas bahwa, pendidikan emansipatoris yang tadinya bertujuan membawa manusia keluar dari kungkungan kebodohan dan mencapai budi pekerti yang baik,kini mulai berbelok ke arah yang pragmatis nan materialistis.

Praktik inilah yang telah lama menyusup ke dalam ruang-ruang kelas kita, catatan-catatan pelajaran kita, buku-buku praktikum yang wajib kita baca, hingga menjangkit ke pola pikir kita yang memandangfungsi kegiatan pendidikan bukan lagi sebagai tindakan yang emansipatoris, tetapi terkapitalisasi untuk sekedar mencari duit dan menjadi robot-robot pekerja yang baik.

Sekali lagi saya tekankan betapa konsep pendidikan yang link and match seperti ini sebagai indikasi matinya pendidikan, sebab lahan kerja yang kelak menyerap tenaga kerja berpendidikan bertujuan pada orientasi bisnis perusahaan (baca: kapitalis) semata, dan bukan berorientasi pada perbaikan struktur dan kultural masyarakat Indonesia. Terlebih lagi, pendidikan link and match model begini, menurut hemat penulis akan semakin menghambat mental kepeloporan, kepemimpinan, kemanusiaan, spiritualitas, dan mentalitas-mentalit as generasi muda Indonesia masa depan.

Pendidikan yang seharusnya dibangun berlandaskan nilai-nilai objektivitas, keilmiahan (scientific), dan kebijaksanaan (virtue) sebagai nilai dasar dalam ilmu pengetahuan, kini dimuati oleh nilai-nilai komersial sebagai ajang pencarian keuntungan (profit) semata. Inilah wajah pendidikan kita yang lebih tunduk pada kekuasaan kapital daripada kebenaran ilmiah dan moral kebangsaan.

Penutup
Apa yang terungkap pada uraian di atas memang terasa ganjil, problematis dan ironis bagi kelangsungan generasi muda intelektual kita saat ini yang membutuhkan kejujuran dunia ilmu pengetahuan. Betapa tidak, kita semua –mau tak mau– adalah bagian dari anak-anak peradaban yang terlanjur lahir dalam sebuah pendangkalan, pemassalan dan komersialisme sebagai praktik pendidikan mutakhir bangsa ini.
Drama matinya pendidikan inilah yang saya tangkap dari pengalaman saya ketika membaca Laskar Pelangi. Sungguh-sungguh sebuah drama yang ditutup dengan ironi ketika tokoh Ikal bertemu dengan Lintang pada dua belas tahun kemudian. Lintang dengan kecerdasan mengagumkan seorang anak pesisir miskin, mesti mengujungkan nasibnya sebagai supir truk pasir di Belitong.

Walhasil, membaca Laskar Pelangi juga membawa saya hanyut dalam perasaan yang sama seperti yang tokoh Ikal ucapkan di penghujung novel ini:
`Dan kata-kata itu semakin menghancurkan hatiku, maka sekarang aku marah, aku kecewa pada kenyataan begitu banyak anak pintar yang harus berhenti sekolah karena alasan ekonomi. Aku mengutuki orang-orang bodoh sok pintar yang menyombongkan diri, dan anak-anak orang kaya yang menyia-nyiakan kesempatan pendidikan.‘ (LP,hal 472)
Maka sebagai penutup, dengan ditulisnya esai ini saya memang tidak sedang mengajukan pemikiran jitu nan tokcer demi mengatasi permasalahan pendidikan tersebut. Esai ini lebih berniat menjadi apresiasi bagi Andrea dan para sastrawan lainnya yang tak hanya lihat dalam berkata-kata, tapi juga peka dengan permasalahan dan kondisi zamannya.

Mungkin juga ini saatnya kita meninggalkan gaya menulis kita yang melulu berkisah tentang pencarian diri, cinta picisan, ataupun seks. Mari menulis seperti Andrea yang menulis novel tak hanya untuk diri sendiri dan sekedar meraih keuntungan materi, namun juga berkarya untuk membangkitkan kesadaran pembacanya akan perkembangan pendidikan di Indonesia.

Matinya pendidikan di Indonesia mungkin baru kita rasakan sebagian kecil saja, tapi jelas bahwa ia patut untuk diwacanakan secara luas. Kecuali pada suatu nanti di masa depan, siap-siap saja kita dengar lonceng kematian ilmu pengetahuan dan praktik pendidikan berkumandang; lonceng kematian yang dikumandangkan sebagai tanda kemenangan pasar atas wafatnya rasionalitas intelektual bangsa ini.

FFS 2012: Jive Luncurkan DVD Kompilasi Festival Film Solo

0 komentar
DVD kompilasi Festival Film Solo. (Foto: FI)
Festival Film Solo (FFS) bekerja sama dengan Jive Collection meluncurkan DVD bertajuk Fiksi-Pendek Indonesia, Volume 01. “Rencana ini sudah ada seusai festival tahun lalu. Kami pun mengontak pihak Jive melalui Pak Ronny P Tjandra, dan syukurlah bisa terwujud tahun ini,” kata direktur FFS Ricas Cwu saat malam peluncuran DVD, 10 Mei 2012 di Teater Besar ISI Surakarta.
Ada enam film pendek dalam kompilasi yang dirilis Jive: Gang Seribu karya Ulul Albab (Yogyakarta, 2009), Wrong Day karya Yusuf Radjamuda (Palu, 2011), Gara-gara Bendera karya Jeihan Angga Pradana (Yogyakarta, 2011), Territorial Pissing karya Jason Iskandar (Jakarta, 2010), Marni karya Kuntz Agus (Yogyakarta, 2011), serta Pigura karya Darti dan Yasin (Purbalingga). Keenam film merupakan unggulan dan film favorit pilihan penonton dari kategori Ladrang (umum) dan Gayaman (pelajar) FFS 2011. DVD ini diedarkan Jive dengan harga Rp. 59.000.

Para pembuat film yang karyanya masuk kompilasi setuju untuk menyumbangkan hasil royalti untuk program FFS ke depannya. “Royalti dari penjualan DVD tersebut diputuskan oleh para pembuatnya untuk dikelola FFS dalam bentuk “dana film” (film funding). Jadi FFS mengumpulkan hasil royalti. Para sineas yang butuh dana untuk produksi film pendek bisa pitching ide filmnya di FFS tahun depan. Ini sejalan dengan visi FFS sebagai festival yang menkhususkan diri di film pendek,” jelas Ricas.

Direktur Jive Collection Ronny P Tjandra optimis film pendek akan semakin dikenal publik dan rilis DVD ini ia yakini adalah langkah pertama yang tepat. “Perkembangan teknologi  membuat hidup kita semakin segmented. Sekarang orang baca berita di gadget. Ke depannya film pendek saya rasa akan mendapat perlakuan serupa,” jelasnya, “DVD rilisan Jive ini adalah langkah awal. Kompilasi ini memungkinkan penonton membawa pulang film dari festival, dan menontonnya kembali di tempat masing-masing.”

Bagi Jeihan Angga, sutradara Gara-Gara Bendera, DVD ini memberi umur yang lebih panjang bagi karyanya. “Awalnya kami kira film kami umurnya sangat pendek. Saat selesai produksi, kami berpikir film ini hanya akan diputar beberapa kali dan sudah segitu saja. Dengan adanya DVD ini, film kami bisa punya waktu beredar yang lebih panjang, dan tentunya ditonton lebih banyak orang,” tuturnya.

Pemutaran Perdana Anak-Anak Srikandi di Indonesia

0 komentar
Poster film Anak-Anak Srikandi.Setelah pemutaran perdana di Festival Film Internasional Berlin ke-62 dalam seksi Panorama Februari lalu, Anak-Anak Srikandi (Children of Srikandi) akan diputar perdana di Indonesia pada Minggu, 6 Mei 2012 di Goethe Institute Jakarta, Jalan Sam Ratulangi No. 9 – 15, Jakarta Pusat pukul 15.00. Film antologi ini diputar untuk umum, gratis, dan akan dilanjutkan dengan tanya jawab dengan pembuat film.

Anak-Anak Srikandi adalah sebuah film antologi tentang perempuan LGBTdi Indonesia, yang dianggap sebagai negara dengan populasi penduduk Muslim terbesar. Proyek ini berawal dari workshop yang menghasilkan sebuah film kolaboratif tentang pengalaman hidup masing-masing sutradara sebagai perempuan LGBT di Indonesia dan pada saat yang sama memberikan mereka sarana untuk merepresentasikan diri secara filmis. Proyek ini dibuat selama dua tahun di bawah bimbingan Angelika Levi (celestefilm) dan Laura Coppens (Srikandi Films), yang bertindak sebagai produser film ini.
Terdiri dari delapan cerita yaitu Hello World! (Imelda Taurinamandala), Jlamprong (Eggie Dian), Acceptance (Oji), Edith’s Jilbab (Yulia Dwi Andriyanti), A Verse (Winnie Wibowo), In Between (Hera Danish), Deconstruction (Stea Lim), No Label (Afank Mariani), yang akan dijalin dengan adegan teater bayangan bayangan tentang kisah Srikandi, salah satu karakter dari Mahabharata.
Film berdurasi 75 menit dan merupakan produksi bersama antara Indonesia, Jerman, dan Swiss ini juga akan tayang di Outview Film Festival, Yunani, Cambodia LGBT Pride!, Kamboja, dan Seoul LGBT Film Festival, Korea Selatan pada bulan Mei, dilanjutkan pemutaran di Tel Aviv International LGBT Film Festival, Israel, dan Barcelona International Women’s Film Festival, Spanyol pada bulan Juni mendatang. Selain di Festival Film Berlin, film ini juga sempat diputar di CinemAsia Film Festival, Belanda, April lalu.

Joshua Suherman: Harus Bangga dengan Peran

0 komentar
Joshua Suherman saat peluncuran film 3 Pocong Idiot. (Foto: FI)
"Di manapun kita bermain, besar maupun kecil kita harus bisa bangga dengan peran itu. Peran-peran saya sebelumnya kecil, tapi saya selalu berusaha untuk membesarkan karakter itu. Dan itu adalah tantangan tersendiri: bagaimana orang setelah melihat akting kita, bisa terkesan bagi mereka yang menontonnya," urai Joshua Suherman dengan nada serius. Dulu sosoknya dikenal sebagai salah satu penyanyi cilik yang sukses. Ketenarannya saat itu bahkan membawanya ke panggung layar lebar lewat film Joshua oh Joshua (2001) karya Edward Sirait. Itu adalah film pertama Joshua.
Menginjak dewasa ia menapaki kembali karirnya sebagai pemain film. Film pertamanya setelah melepas masa kecilnya adalah Menebus Impian (2010) bersama Hanung Bramantyo. Sejak saat itu Joshua selalu dilibatkan Hanung dalam film arahannya. Sang Pencerah (2010) dan Tendangan Dari Langit (2011) adalah dua film berikutnya. Saat itu Joshua belum dipercaya untuk mendapatkan porsi utama.
Kini kesempatan mengeksplorasi karakter lebih dalam datang saat Joshua terlibat dalam film horor komedi 3 Pocong Idiot. Di film karya Nayato Fio Nuala, sulung dari tiga bersaudara itu akhirnya mendapatkan peran utama. "Ini adalah film pertama saya sebagai pemeran utama. Jujur ini sedikit lebih beban, dan saya ingin berusaha agar orang tidak bosan dengan apa yang saya perbuat di depan kamera", jelas Joshua.
Berturut-turut main dalam film drama, dan tiba-tiba mengambil peran sebagai pocong di horor komedi. Joshua menyatakan perannya kali ini adalah untuk membuktikan bisa bermain di jenis film apapun. Tapi, ia juga tidak menampik bahwa sampai saat ini masih bingung mau ke mana ia ingin menentukan arahnya. "Saya nggak tahu mau jadi aktor seperti apa, tapi yang jelas, apa yang sudah saya lakukan dan saya capai itu tidak boleh berada di bawahnya. Jika sudah main film drama, berarti main film drama lagi saya harus lebih bagus. Saya belum main film horor komedi seperti ini, yang kata orang kelas menengah bawah. Saya ingin mencobanya. Dan saya ingin menyamakan konsep lucu di otak saya sama konsep pasar. Kaya apa sih?" tambahnya.
Sebagai mantan bintang cilik yang kembali bersinar di masa remajanya, perjalanan karirnya bisa jadi mirip-mirip dengan Rano Karno. Namun Joshua sangat menolak saat dirinya disamakan dengan Rano Karno. "Ya kalau memang dibilang seperti itu, saya belum bisa dikatakan seperti beliau. Beliau itu legendalah. Nanti kalau sudah tiga puluh tahun ke depan dan saya masih eksis dan terus bisa berkarya dengan baik, nah barulah boleh disamakan dengan beliau. Saat ini saya cuma bisa berusaha semaksimal mungkin untuk bisa sama dengan beliau,"
Akting bagi Joshua adalah hal yang sangat penting selain menyanyi. Tapi, ada hal lain yang juga menjadi prioritasnya selama ini. Pendidikan baginya adalah hal penting yang tidak boleh ditinggalkan. Faktor inilah yang membuatnya sempat hilang dari dunia hiburan. "Dunia seni peran dan musik telah membesarkan nama saya, tapi di satu sisi, saya tidak boleh melupakan dunia pendidikan, karena itu akan mendukung perjalanan karir saya ke depan," jelas Joshua yang kini berstatus mahasiswa semester dua jurusan komunikasi di salah satu universitas swasta di Jakarta.

Musik Metal Bantu Stabilkan Emosi

0 komentar
Tak semua orang suka dengan musik beraliran cadas. Iramanya yang hingar bingar dianggap sebagai musik yang hanya membuat telinga tuli. Tapi mulai sekarang, meskipun Anda tak menyukainya, tak ada salahnya jika Anda memanfaatkan keberadaannya untuk meredan stres. Tak percaya ?

Penelitian terbaru yang dilansir oleh Sciencedaily bahkan menyebutkan bahwa penggemar musik heavy metal ternyata lebih pandai meredam emosi negatif, lebih ekspresif dan lebih bisa meluapkan kemarahannya.

Penelitian yang melibatkan 1.057 murid dari usia antara 11 dan 18 tahun dari sekolah National Academy di Amerika. Semua responden diteliti dengan cermat hubungan mereka dengan keluarga, perilaku di sekolah, bagaimana mereka menghabiskan waktu santai, musik kesukaan, dan jenis media yang mereka konsumsi. “Penelitian ini berhasil membuktikan bahwa bahwa presepsi yang selama ini beredar salah. Selama ini orang menganggap murid yang cerdas dan memiliki intelijensi tinggi cenderung didominasi mereka yang suka musik klasik dan menghabiskan banyak waktu untuk membaca, ” ujar Stuart Cadwallader, kepala penelitian dari Warwick University.

Sayangnya, menurut Stuart tudi mereka yang menikmati musik heavy metal cenderung mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan keluarga dan teman-teman mereka. Dan mereka menjadikan musik sebagai media ‘keterbukaan’. Sebagian besar murid mengatakan mereka tidak mempertimbangkan untuk menjadi penganut Metal sejati tapi musik heavy metal memahami aspek spesifik kebudayaan pemuda saat ini. Dengan menggunakan musik yang keras dan agresif, mereka bisa keluar dan lepas dari rasa frustrasi dan kemarahan. Di sini berhasil dibuktikan bahwa musik heavy metal atau cadas juga bisa meredekan situasi hati atau mood yang sedang buruk. Menurut Stuart, banyak musisi aliran heavy metal juga memiliki tingkat intelijensi tinggi seperti vokalis Iron Maiden, Bruce Dickinson, yang selain sebagai musisi, juga berprofesi sebagai novelis dan pilot penerbangan komersial.

5 Penyebab Dunia Musik Indonesia Membosankan

0 komentar
Berikut ini merupakan fakta-fakta yang terjadi di sekitar kita, yang mengakibatkan dunia musik Indonesia menjadi membosankan, antara lain :



 
Plagiat

Plagiarisme adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain. Di dunia pendidikan, pelaku plagiarisme dapat mendapat hukuman berat seperti dikeluarkan dari sekolah/universitas. Pelaku plagiat disebut sebagai plagiator.


Di Indonesia sendiri banyak plagiator-plagiator yang tidak mengakui bahwa dirinya plagiat (meskipun banyak juga yang tidak plagiat, namun pamor mereka kalah oleh yang plagiat), baik itu penyanyi solo, group band, pengarang lagu dan banyak lagi. Mereka beralasan, hanya meng-influence aliran/genre musiknya saja, dan itu sudah menjadi satu senjata andalan bagi mereka untuk beralasan. Dan ketika salah satu penyanyi solo atau group band sukses dengan ke-plagiator-annya, maka yang lain sepertinya berlomba-lomba untuk mengikuti jejak plagiator sukses tersebut. Dan akhirnya, semakin membosankan musik Indonesia.


Note : Di sini ane tidak akan menampilkan contoh dari plagiator-plagiator tersebut, demi menjaga nama baik mereka. Mungkin dari rekan-rekan pastinya sudah tahu siapa saja dan group band mana saja yang jelas-kelas telah menjadi plagiator.


Lip-sync


Lip-sync atau lip-synch adalah istilah teknis untuk pencocokan gerakan bibir dengan suara. Dalam sebuah konser musik atau siaran langsung di televisi, lip sync merupakan hal yang kontroversial.


Di negara China, kementrian kebudayaan telah mengeluarkan kebijakan tentang lip sync pada bulan Agustus 2009. Kementerian mengeluarkan kebijakan itu karena menilai bernyanyi lip sync termasuk kebohongan publik. Dan sebulan dari itu, dua penyanyi China, Starlets Yin Youcan dan Fang Ziyuan kedapatan hanya bercuap-cuap saat mereka konser di Provinsi Sichuan. Mereka di denda sekitar 80 ribu yuan atau RRp. 110 juta sekaligus menjadi korban pertama kebijakan kementrian kebudayaan. Kebijakan itu dikeluarkan karena pada tahun 2008, panitia Olimpiade Beijing melakukan tindakan kontroversial. Memasang gadis muda yang bernyanyi lip sync saat upacara pembukaan Olimpiade. Panitia beralasan tindakan itu dilakukan karena penyanyi sebenarnya tidak cukup cantik untuk ditunjukkan ke seluruh dunia.

Di Indonesia sendiri, lip sync menjadi sesuatu yang wajar dan pelaku nya pun sepertinya nyaman-nyaman saja (yang penting di bayar kata "mereka"). Banyak acara-acara pagelaran musik yang menggunakan "jasa" lip sync, baik itu di siarkan langsung oleh televisi maunpun tidak. Dan acara tersebut sukses menyedot penonton dan menaikkan rating acara tersebut mengakibatkan menjamurnya acara "lip sync show" di berbagai stasiun-stasiun televisi swasta di Indonesia. Namun, banyak juga acara-acara konser musik yang tidak menggunakan "jasa" lip sync, seperti : indiefest, soundrenalin, dan banyak lagi.

Tema Lagu Yang Sama


Dalam hal pemilihan judul lagu, hampir semua penyanyi, group musik, ataupun pencipta lagu memiliki tema yang sama. Ini membuat semakin membosankannya musik di Indonesia. Ketika seorang penyanyi atau group musik memiliki sebuah lagu yang sukses dengan tema, misalkan "selingkuh", maka dengan serempak penyanyi atau group musik yang lain membuat lagu dengan tema tersebut (meskipun tidak semua, tetapi kebanyakannya begitu). Mereka mencoba peruntungannya dengan tema lagu tersebut, meskipun dengan musik seadanya. Dan ini sangat-sangat menyedihkan.


Pemaksaan Karakter


Mungkin hanya di Indonesia saja yang memiliki aktris/aktor segala bidang. Pemain sinetron, penyanyi, pemain film layar lebar, penulis lagu, presenter, dan sebagainya bersatu dalam satu karakter. Mereka menyebutnya "Aktris/aktor Serba Bisa". Apakah dengan begitu, bisa disebut "serba bisa"? Belum tentu!. Karena banyak contoh yang memperlihatkan ke-lucu-an tersebut. Seseorang yang tidak memiliki bekal, bahkan bakat dalam dunia musik di paksakan untuk terjun kedalam dunia musik, maka yang terjadi adalah ke-lucu-an. Mereka menggunakan label keartisannya untuk mendongkrak popularitas di dunia musik. Memang itu hak mereka untuk berbuat seperti itu, tapi apakah mereka melihat hak orang lain?!. Namun, banyak juga yang asalnya terjun di dunia perfilm-an yang akhirnya hijrah ke dunia musik dan sukses.


Selain dari kalangan artis, banyak juga dari sekelompok orang yang mencoba untuk sukses di dunia musik. Dan bagi mereka yang tidak memiliki bakat dalam dunia musik, akhirnya akan tenggelam seiring dengan bermunculannya sosok-sosok yang memiliki bakat di dunia musik.


Kekuasaan Ada di Tangan Major Label


Mungkin inilah penentu seseorang atau sekelompok orang sukses atau tidaknya mereka dalam dunia musik. Dan ini merupakan fakta yang sangat jelas. Major Label-lah yang mengelola rekaman suara dan penjualannya, termasuk promosi dan perlindungan hak cipta. Mereka biasanya memiliki kontrak dengan artis-artis musik dan manajer mereka. Dan sepertinya sudah tidak perlu di jelaskan lagi, bagaimana major label - major label yang ada di Indonesia, sudah tahu sama tahu. Kekuasaan Major Label bisa sampai ke kreativitas atau improvisasi para musisi yang di kontraknya (mungkin di Indonesia saja). Dan hampir semua Major Label di Indonesia seperti itu!


Namun di luar fakta di atas, ane hanya ingin menyampaikan sedikit kritik tanpa maksud menyinggung atau melecehkan seseorang, sekelompok atau bahkan negara sendiri. Ini demi kemajuan Musik Indonesia. Dan bagi seseorang, sekelompok atau yang lainnya, yang merasa tersinggung atau tercemarkan nama baiknya, saya mohon maaf. BANGUN MUSIK INDONESIA!

Minggu, 20 Mei 2012

Definisi Galau Bagi Mahasiswa

0 komentar
"GALAU" makanan apaan tuh? "galau adalah sejenis makanan kaleng yang di awetkan dan memabukkan" <<< yang barusan boleh ngarang sendiri jangan di pikirin!! yang jelas jangan nanya gua definisi/pengertian galau dalam kamus besar bahasa indonesia agar tidak terjadi pelecehan kata, karna gua bukan jurusan bahasa indonesia *ngisep jempol* buat gua galau adalah saat putus cinta atau ketika Ayu ting-ting nolak gua mentah-mentah trus seminggu kemudian jadian ama sahabat gua, sambil pamer cipika-cipiki depan gua...!!! apaan?? mandi sama-sama jarang, tidur sama-sama ngiler kok bisa??? WTF.. sial banget... oke lupain yang barusan, gua cuma ngayal. masih seputar suka duka kehidupan mahasiswa, kali ini gua pengen share definisi galau bagi mahasiswa,, hue'e'e'e'eeeee,, cekibroooootttt....!!!!
Galau adalah saat nahan kentut waktu konsultasi ama dosen pembimbing...

Galau Mahasiswa


Galau adalah ketika uang bulanan datang terlambat...

Galau Mahasiswa


Galau adalah ketika belum sempat buat contekan untuk ujian besok...

Galau UAS


Galau adalah saat ujian semesteran kagak bisa nyontek...

Galau UTS


Galau adalah saat hasil ujian tak seperti di dalam mimpi tadi malam...

Galau UAS


Galau adalah saat H-1 tapi tugas belum kelar-kelar...

Galau Tugas


Galau adalah saat tugas berantakan...

Galau Tugas


Galau adalah saat di tanya "eh IP lo semester kemaren berapa?"



Segalau-galaunya mahasiswa, kagak bakal lebih galau dari pada saat rayuan ala si raja gombal di tolak mentah-mentah ama si dia... always alone... hiks... (jomblo sejati)

Galau Cinta

5 Keunggulan Agregate Terbesar Sepanjang Masa Di Liga Champions

0 komentar

Perempat-final Liga Champions akhirnya tuntas. Dari empat laga yang dihelat, duel Real Madrid kontra APOEL Nicosia menjadi laga yang menghasilkan skor agregate terbesar di musim ini.

Namun keunggulan 8-2 secara agregate tidak memposisikan skuad Jose Mourinho sebagai tim yang bisa menundukkan lawannya dengan skor gabungan terbesar.


BAYERN MUNICH 12-1 SPORTING LISBON (2008-09)

Bayern mencetak empat gol di babak kedua pada leg pertama di babak 16 besar saat menghadapi Sporting Lisbon. Franck Ribery lebih dulu mencetak satu gol di babak pertama sebelum mengamuk di 45 menit kedua.

Di leg kedua di Munich, hasilnya jauh lebih buruk bagi skuad asuhan Paulo Bento. Skor 7-1 menjadi hasil akhir laga tersebut. Secara agregate, Bayern menang meyakinkan dengan skor 12-1, yang menjadi marjin selisih gol terbesar di era Liga Champions sampai saat ini.

LYON 10-2 WERDER BREMEN (2004-05)


Di edisi 2004/05, Lyon sudah menunjukkan tanda-tanda menang dengan skor telak saat menang 3-0 di pertemuan pertama di Weserstadion kala dijamu Werder Bremen. Padahal tim tuan rumah mengendalikan jalannya pertandingan sepanjang 90 menit laga.

Di Stade Gerland, segalanya menjadi lebih parah bagi Bremen. Di 30 menit pertama, tiga gol sudah bersarang ke gawang tim Bundesliga Jerman tersebut, sekaligus mengubur kans menembus babak selanjutnya.

Namun Bremen terus berjuang dan akhirnya menuntaskan laga dengan memasukkan dua gol, tapi juga kemasukan empat gol tambahan. Skor akhir 7-2, atau 10-2 secara agregate.

Sayangnya, di perempat-final, Lyon kalah dalam adu tos-tosan melawan PSV Eindhoven. Tragis.
BARCELONA 10-2 BAYER LEVERKUSEN (2011-12)


Kemenangan dengan skor besar juga dicatat Barcelona. Dan, beruntungnya kita, momen tersebut terjadi di musim ini, kala sang juara bertahan menghadapi Bayer Leverkusen di babak 16 besar.

Di Bay Arena, Barcelona menang dengan skor 3-1, memposisikan klub Spanyol itu dalam pole position untuk lolos ke babak perempat-final.

Dan Di Nou Camp, Barcelona benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai salah satu kandidat juara musim ini. Mengandalkan pemain terbaik dunia Lionel Messi, gawang Leverkusen dipermak tujuh gol berbalas satu. Messi sendiri mencetak lima gol di laga tersebut.


REAL MADRID 8-2 APOEL NICOSIA (2011-12)


Dan dinihari tadi, Real Madrid memposisikan diri mereka masuk dalam tim yang bisa mencatat kemenangan dengan skor besar dalam laga dua leg di fase gugur Liga Champions. Korbannya adalah APOEL Nicosia.

Tim Siprus itu sudah kalah 3-0 di kandang sendiri minggu lalu. Kans mereka membalas di Santiago Bernabeu terbilang kecil.

Benar saja, Cristiano Ronaldo dkk menggila di depan pendukung mereka sendiri. Ronaldo, Kaka, Jose Callejon dan Angel Di Maria menjadi pemain yang melesakkan bola bergantian untuk membawa timnya unggul 5-2, atau 8-2 secara agregate.
BAYERN MUNICH 7-1 BASEL (2011-12)


Masih di musim ini, Bayern sempat kalah di leg pertama di St Jakob Park, saat dijamu Basel. Tapi pembalasan telak ditunjukkan skuad Jupp Heynckes di Allianz Arena pada leg kedua.

Mario Gomez yang menjadi salah satu aktor utama mengubur kans Basel dengan memetik kemenangan meyakinkan 7-0.

Bayern kini menatap lurus kesempatan bermain di final Liga Champions musim ini, yang akan dilangsungkan di stadion kebanggaan mereka. Untuk bisa sampai di sana, Bayern masih harus menaklukkan Real Madrid di semi-final.

Suka Duka Mahasiswa

0 komentar
humor ala mahasiswa
Suka Duka Jadi Mahasiswa - Sekedar Humor Seputar Kehidupan Mahasiswa. Jadi Mahasiswa emang ada enak dan gak enaknya, apa lagi Mahasiswa Rantau, lebih banyak gak enaknya, jauh dari rumah dan keluarga, hadehhhhh, "hidup segan mati gak mau" lah pokoknya, tambah lagi tinggal di kos-kosan mahasiswa dodol yang tiap hari jungkir balik ngakak, maen game bareng, begadang sampe pagi dan banyak lagi kegiatan seru yang buat kuliah juga ikut-ikutan jungkir balik Ala Koboy Kampus atau Boyband. Sepenggal lirik ini  sangat melukiskan suka duka jadi mahasiswa "lalu kapan saya akan di wisuda?, adik kelas sudah lebih dulu, teman baik sudah di D.O" hahahaha
Teori "4DT" (Datang, Duduk, Diam, Dengar, Tidur) adalah ideologi yang di pegang teguh sampai DO mati, jumlah absensi yang bolong saking banyaknya sampe gak bisa di tambal lagi oleh tukang tambal ban, belum lagi jumlah pinalti dari dosen karna datang terlambat, gimana gak di usir dari ruangan, datang paling awal setengah jam sebelum pelajaran selesai, dan yang paling parah berdasarkan catatan rekor "Mahasiswa Ngaret", teman gue berhasil memegang catatan rekor yang waahhhhhh banget, sampai saat ini belum ada yang mampu mengalahkannya, rekor terlambat 2,5menit (datang 2,5menit setelah dosen meninggalkan ruangan).akakakakakakkak

Susah payah kuliah jangan sampai setelah lulus mahasiswa bakal jadi kayak gini, hadehhhhhhh jangan dehhhhhh!!!! :D ohh tuhan tolong lah para Mahasiswa yang seperti ini ,, Amiiinnnnn!!! hahahahaha.

       1. Mahasiswa Jurusan Ilmu Komputer (Informatika) <<< jurusan Mister'bo nih,, :D
humor ala mahasiswa
OP Warnet

      2. Mahasiswa Jurusan Teknik Komputer
humor ala mahasiswa
Tukan Servis Komputer

       3. Mahasiswa Jurusan Teknik Elektro
humor ala mahasiswa
Tukang Servis TV/Radio

       4. Mahasiswa Jurusan Teknik Lingkungan
humor ala mahasiswa
Tukang Sapu

       5. Mahasiswa Jurusan Teknik Mesin
humor ala mahasiswa
Montir

       6. Mahasiswa Jurusan Teknik Sipil
humor ala mahasiswa
Kuli Bangunan

       7.  Mahasiswa Jurusan Pertanian
humor ala mahasiswa
Tukang Sayur

       8. Mahasiswa Jurusan Perikanan
humor ala mahasiswa
Tukang Jual Ikan

       9. Mahasiswa Jurusan Kedokteran
humor ala mahasiswa
Tukang Sunat

       10. Mahasiswa Jurusan Keperawatan
humor ala mahasiswa
Baby Sitter

       11. Mahasiswa Jurusan Kebidanan
humor ala mahasiswa
Dukun Beranak

       12. Mahasiswa Jurusan Dokter Hewan
humor ala mahasiswa
Tukang Jagal

       13. Mahasiswa Jurusan Geofisika
humor ala mahasiswa
Tukang Gali Sumur

       14. Mahasiswa Jurusan Perminyakan
humor ala mahasiswa
Tukang Minyak

       15. Mahasiswa Jurusan Kehutanan
humor ala mahasiswa
Tukang Kayu Bakar


       16. Mahasiswa Jurusan Farmasi
humor ala mahasiswa
Tukang Obat


       17. Mahasiswa Jurusan Kimia
humor ala mahasiswa
Tukang Jamu

       18. Mahasiswa Jurusan Arkeologi
humor ala mahasiswa
Tukang Gali Kubur

       19. Mahasiswa Jurusan Seni Rupa
humor ala mahasiswa
Tukang Cat

       20. Mahasiswa Jurusan Seni Musik
humor ala mahasiswa
Pengamen


       21. Mahasiswa Jurusan Tata Boga
humor ala mahasiswa
Tukang Jual Gorengan

       22. Mahasiswa Jurusan Tata Busana
humor ala mahasiswa
Tukang Jahit

       23. Mahasiswa Jurusan Matematika
humor ala mahasiswa
Dukun Togel

       24. Mahasiswa Jurusan Akuntansi

Tukang Ngitung duit

Jurusan yang gak di sebut jangan marah ya,, hahahaha,, jangan terlalu di anggap serius masbro & mbabro, ini hanya "Humor Seputar Mahasiswa" gak ada maksud buat menyinggung,, :D oke sekian dulu Humor Ala Mahasiswa.

Kisah Cinta 100 Hari

0 komentar

Salleh dan Salleha sedang duduk bersama di taman kampus tanpa melakukan
apapun, hanya memandang langit sementara sahabat-sahabat mereka yang
lain sedang asyik bercanda ria dengan kekasih masing-masing.

Salleha : ” Ahhh!! aku bosan. Aku berharap aku juga mempunyai kekasih
yang dapat bersama berkongsi waktu denganku. “

Salleh : ” Nampaknya cuma tinggal kita berdua saja yang masih single
mingle, masih tidak mempunyai pasangan sekarang.” (keduanya mengeluh dan
berdiam beberapa saat)

Salleha : ” Aku ada idea best nie. Kita adakan permainan jom? “

Salleh : “Errr? Permainan apa? “

Salleha : “Ermmmmm… sonang tu bah. Apa kata kau jadi kekasihku dan aku
jadi kekasihmu tapi hanya untuk 100 hari saja….. camnerr okay tak? “

Salleh : ” Baiklah… lagi pong aku juga belom ada agenda apa-apa untuk
beberapa bulan nie. “

Salleha : ” Lerr… cam tak ikhlas jerr…. nak tak nak??… semangat
sikitlah! Hari ini akan jadi hari pertama kita bercouple. Kita ke mana
sekarang? “

Salleh : ” Camnerr kalau kita nengok wayang ajerr? Kalau tak salah
cerita Love Is Cinta tengah now showing nie….. Ajeb ngan Adha cakap
citerr nyerr best tau.. dia orang kasi 4 bintang lagi. “

Salleha : “OK sett!!!…. Jom kita pergi sekarang. Pastu kita gi karaoke
yerr… agak-agak kalau kita ajak sama MasPenn ngan Lili tu dia nak tak??? “

Salleh : “Boleh juga…” ( mereka berdua pun pergi menonton, berkaraoke
dan Salleh menghantar Salleha pulang selepas itu )

Hari ke 2 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu untuk berbual dan bercanda di
kafe, suasana kafe yang remang-remang dengan alunan muzik yang syahdu
membawa hati mereka pada situasi yang romantis. Sebelum pulang Salleh
membeli sebuah kalung perak yang berloketkan sebiji bintang untuk Salleha.

Hari ke 3 :

Mereka pergi ke Mall membeli-belah untuk mencari hadiah buat Lady Rye,
seorang sahabat Salleh. Setelah lelah berkeliling dalam Mall, mereka
memutuskan untuk membeli sebuah jam tangan. Setelah itu mereka
beristirehat dan duduk di foodcourt, makan sepotong kuih dan satu gelas
jus berdua dan mulai berpegangan tangan untuk pertama kalinya.

Hari ke 7 :

Bermain bowling dengan teman-teman Salleh. Tangan Salleha terasa sakit
kerana tidak pernah bermain bowling sebelumnya. Salleh memicit-micit
tangan Salleha dengan lembut.

Hari ke 25 :

Salleh mengajak Salleha makan malam di Danga Bay. Bulan sudah
menampakkan diri, langit yang cerah menghamparkan ribuan bintang dalam
pelukannya. Mereka duduk menunggu makanan, sambil menikmati suara desir
angin berpadu dengan suara gelombang bergulung di pantai. Sekali lagi
Salleha memandang langit, dan melihat bintang jatuh ( shooting stars ).
Dia mengucapkan suatu permintaan dalam hatinya.

Hari ke 41 :

Salleh menyambut ulang tahun. Salleha membuatkan kek ulang tahun untuk
Salleh. Bukan kek buatannya yang pertama, tetapi kasih sayang yang mulai
timbul dalam hatinya membuat kek buatannya itu menjadi yang terbaik.
Salleh terharu menerima kek itu, dan dia mengucapkan suatu harapan saat
meniup lilin ulang tahunnya.

Hari ke 67 :

Salleh dan Salleha menghabiskan waktu di Sunway Lagoon. Berjalan sama di
The World’s Longest Pedestrian Suspension Bridge, sambil menikmati
pemandangan. Naik The Viking, makan aiskrim bersama, dan mengunjungi
kiosk permainan. Salleh menghadiahkan sebuah boneka teddy bear besar
bermata biru untuk Salleha, dan Salleha membelikan sebuah MP3 thumbdrive
player untuk Salleh.

Hari ke 72 :

Pergi ke Suntec City di Temasik. Melihat meriahnya pameran dari negeri
Cina. Salleha mengajak Salleh untuk mengunjungi salah satu kiosk
“Fortune Telling”. Sang peramal hanya mengatakan “Hargai waktumu
bersamanya mulai sekarang” kemudian peramal itu menitiskan airmata.

P.S : Korang jangan pulak besok-besok gi jumpa tukang telek pulak… tang
ini cuma buat sedapkan jalan citerr jerr…

Hari ke 84 :

Salleh mengusulkan agar mereka berlibur ke pantai. Pantai desaru
kelihatan sepi kerana bukannya waktu percutian bagi orang lain. Mereka
melepaskan sandal dan berjalan sepanjang pantai sambil berpegangan
tangan, merasakan lembutnya pasir dan dinginnya air laut menghempas kaki
mereka. Matahari terbenam, dan mereka berpelukan seakan tidak ingin
berpisah lagi.

P.S Lagi : Tang peluk-peluk nie pong… korang jangan pulak nanti serang
jebat pasai buat adengan peluk-peluk… sama jugak macam yang kat atas tu…
sajerr nak panjangkan citerr…

Hari ke 99 :
Salleh memutuskan agar mereka menjalani hari ini dengan bersantai sambil
berputar-putar tanpa arah tujuan keliling bandar dan akhirnya duduk di
sebuah taman.

1520hrs

Salleha : ” Aku haus. Rest kejap okay. “

Salleh : ” Tunggu disini, aku beli minuman dulu. Aye nak minum “Green
Tea”; You nak minum apa? “

Salleha : ” Biar I saja yang beli. Aye kan penat putar stering keliling
bandar hari ini. Sekejap yerr “

Salleh mengangguk. Kakinya memang suka simpul biawak atau cramp kalau
lama memandu.

1530hrs

Salleh sudah menunggu selama 10 minit and Salleha masih belum kembali
juga. Tiba-tiba seseorang yang tidak dikenali berlari menghampiri Salleh
dengan wajah panik.

Salleh : ” Ada apa Cik? “

Orang asing : ” Ada seorang perempuan dilanggar kereta. Rasa-rasanya
macam temanmu tadi “

Salleh segera berlari bersama orang itu. Disana, di atas jalan yang
panas terjemur terik matahari siang, tergeletak tubuh Salleha bersimbah
darah, masih memegang botol minumannya. Salleh segera menelefon ambulan
dan langsung mengikut Salleha ke rumah sakit bersama-sama ambulan.
Selama 8 jam 10 minit, Salleh tidak senang duduk diruang menunggu bilik
kecemasan. Sekejap berdiri… sekejap mundar-mandir.. fikiran Salleh
bercelaru. Seorang doktor keluar dengan wajah penuh penyesalan.

2353hrs

Doktor Zuhana : ” Maaf, tetapi kami sudah cuba melakukan yang terbaik.
Dia masih bernafas sekarang tapi Yang Maha Kuasa akan segera menjemput.
Kami menjumpai surat ini dalam kocek bajunya. “

Doktor Zuhana memberikan sekeping surat yang terkena percikan darah
kepada Salleh dan Salleh segera masuk ke dalam bilik rawatan untuk
melihat Salleha. Wajahnya pucat tetapi kelihatan damai. Salleh duduk
disisi pembaringan Salleha dan menggenggam tangan Salleha dengan erat.
Untuk pertama kali dalam hidupnya Salleh merasakan torehan luka yang
sangat dalam di hatinya. Butiran airmata mengalir dari kedua belah
matanya. Kemudian dia mulai membaca surat yang telah ditulis Salleha
untuknya.

Sahabatku Salleh…
Ke 100 hari kita sudah hampir berakhir. Aku menikmati hari-hari yang
telah ku lalui bersamamu. Walaupun kadang-kadang kau buat derk dan tidak
dapat ku membuat telahan, tetapi semua perkara itu telah membawa
kebahagiaan dalam hidupku.

Aku sudah menyedari bahawa kau adalah jejaka yang berharga dalam
hidupku. Aku menyesal tidak pernah berusaha untuk mengenalmu lebih dalam
lagi sebelumnya.

Sekarang aku tidak meminta apa-apa, hanya berharap kita dapat memanjang
hari-hari kebersamaan kita. Sama seperti yang ku ucapkan pada bintang
jatuh malam ( shooting stars ) itu di pantai, Aku ingin kau menjadi
cinta sejati dalam hidupku. Aku ingin menjadi kekasihmu selamanya dan
berharap kau juga akan berada disisiku seumur hidupku. Salleh, aku
sangat sayang padamu.