Senin, 21 Mei 2012

Joko Anwar: Lebih Tertarik dengan Karakter daripada Teknis

0 komentar
Joko Anwar ketika diwawancara FI di Kemang, Jakarta, 18 April 2012. (Foto: FI)Joko Anwar adalah salah satu anak muda yang masuk ke perfilman nasional pasca reformasi. Awalnya kritikus dan jurnalis film untuk Jakarta Post, Joko masuk ke dunia produksi tahun 2003 sebagai asisten sutradara untuk Biola Tak Berdawai dan penulis naskah Arisan!. Barulah kemudian ia menyutradarai film panjang pertamanya, Janji Joni, di tahun 2005.
Selang tujuh tahun, nama Joko Anwar sudah beredar di kancah internasional. Modus Anomali, film panjang keempatnya, diputar perdana di South by Southwest, sebuah festival kebudayaan di Texas, Amerika Serikat, bulan Maret 2012. Dua film Joko sebelumnya, Kala (2007) dan Pintu Terlarang (2009), dipilih sebagai salah satu film terbaik di tahunnya oleh Sight & Sound, majalah film terbitan British Film Institute.
Pada tanggal 18 April 2012, redaksi FI mendapat kesempatan mewawancarai Joko Anwar di Kemang, Jakarta. Sejam lebih ia bercerita tentang proses produksi Modus Anomali dan pandangannya tentang sinema.

Modus Anomali
Film Indonesia (FI): Dalam film-film Anda, saya menangkap selalu ada trivia-trivia yang merujuk ke film Anda berikutnya. Di Janji Joni, ada poster film Kala. Di Kala, ada Pintu Terlarang di nomor telepon yang diputar Sari (Shanty). Di Pintu Terlarang, ada jalan dengan nama Modus Anomali. Kesan yang saya tangkap Anda sudah punya rencana yang jelas untuk karier film Anda. Anda seperti sudah tahu film apa yang Anda akan buat berikutnya. Apakah memang begitu atau trivia-trivia tadi hanya kebetulan saja?

Joko Anwar (JA): Sebentar. (Joko membuka iPhone dan menunjukkan daftar judul film) These are my plans for my movies. Semua ada di sini. Termasuk film terakhir saya. Saya percaya kalau kita harus selalu punya goal yang jelas, whoever we are, mau kerja di mana saja, di bidang mana saja. Punya goal itu tujuannya supaya bisa bikin plan dan strategi yang jelas. Kalau nggak punya goal, kita bakal gampang melenceng. Saya sudah lihat banyak contohnya, terutama di Indonesia. Teman-teman saya waktu awal-awal masuk film, mereka punya mimpi untuk buat big things. Tapi karena mereka nggak punya goal, tidak ada plan, ketika ada satu hal terjadi, misalnya nikah dan harus cari duit untuk menghidupkan keluarga, mereka selalu bilang iya untuk setap tawaran yang datang, walaupun tawaran itu tak sesuai dengan apa yang mereka mau. Jadinya mereka ke pinggir, nggak maju-maju, nggak jalan ke apa yang mereka mau di awal-awal.
Empat film pertama saya, dari Janji Joni sampai Modus Anomali, semuanya saya niatkan sebagai sekolah film saya. Di situlah saya belajar produksi film, karena saya tidak sekolah film. Rencananya empat film ini untuk belajar. Waktu buat Janji Joni, I don’t know what film is. Waktu syuting hari pertama, clueless banget. Saya nggak tahu harus melakukan apa. Ya udahlah, pakai insting. Teknis, bullshit. I don’t know anything about filmmaking. Untungnya pernah jadi astrada, jadi punya modal sedikit. Kala jadi semacam ujian praktek. Saya mempraktekkan apa yang saya pelajari tentang cinematic storytelling dengan kamera dan segala macam.
Waktu itu ibaratnya begini: semuanya textbook, walaupun textbook-nya nggak ada. Saya belajar dari film-film seperti film-film Akira Kurosawa dan Peter Weir. Ada beberapa shot yang sangat praktis untuk menyampaikan banyak hal. Efektif banget. Saya pelajari itu. Jadilah di Kala, saya susun filmnya shape demi shape. Contohnya begini, everything related to goodness, saya penuhi adegannya dengan garis lurus. Everything related to corruptness, evil and bad things, saya penuhi adegannya dengan garis lengkung, baik setengah bulat maupun bulat sekalian. Ternyata itu efektif untuk menyampaikan cerita unconsciously. Jadi saya nggak perlu, misalnya, kasih narasi kalau Kala bercerita tentang sebuah kota korup yang berisikan orang-orang cari aman. Dengan bahasa gambar tadi, semuanya sudah tersampaikan. Di adegan pembukaan Kala, ada barisan orang-orang pakai payung lewat searah. Tiba-tiba muncul Janus (Fachri Albar) menerobos berlawanan arah, dari kanan ke kiri. Kita kan terbiasa baca dari kiri ke kanan. Gerakan Janus ini menganggu pandangan kita. Dari sini kita tahu, kalau apapun yang berhubungan dengan tokoh ini pasti akan ada apa-apanya.
Pintu Terlarang sama saja. Everything is related to shapes. Modus Anomali memang saya rencanakan sebagai film terakhir saya untuk masa belajar, where everything is very tight. There is no prop. Just camera and the actors. Kalau Anda tanya sebelum saya bikin Modus Anomali, tanya apa itu storytelling, saya bisa jawab banyak. Setelah Modus Anomali, saya akan bilang bullshit. Storytelling is everything within the frame. Apa yang bisa anda lihat dan apa yang bergerak. Yang bergerak itu banyak: ada pemain, ada kamera, ada segala macam. Modus Anomali is intensely very minimal. Tadinya saya mau syuting cuma dua hari, secara real-time, dari John Evans bangun sampai dia tidur lagi.

0 komentar:

Poskan Komentar